oleh

“Sesungguhnya Hati Manusia itu Berkarat”

Diterbitkan pada

image_pdfUnduh PDF
"Sesungguhnya Hati Manusia itu Berkarat"
Oleh : KHOIRUNNAS HARAHAP, S.Pd

PAMARTANUSANTARA.CO.ID| Manusia adalah mahluk Ciftaan Allah SWT, Tuhan yang Maha Kuasa yang tidak luput dari salah dan dosa, sehingga tidak satu manusiapun yang luput daripada-Nya. Namun sebaik- baik manusia berdosa adalah manusia yang mau mengakui kesalahannya dan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang mengakibatkan dosa tersebut.

Alangkah ruginya kita sebagai mahluk Ciptaan Nya jika terus-menerus larut dalam dosa, sementara usia semakin bertambah. Dalam sebuah Hadits Rasulullah di jelaskan :

“Sesungguhnya Hati Manusia itu Berkarat, Maka pembersihnya adalah, Baca Al-Quran, Menghadiri Majlis zikir dan Ingat Mati”.

1.Baca Qur’an.

Sangatlah dianjurkan bagi kita ummat muslim untuk memperbanyak baca Al-Qur’an sebagai upaya pembersih hati kita yang sedang berkarat. Dari Al-quran kita bisa mendapat petunjuk bagaimana cara hidup, cara mensyukuri nikmat Allah, dan berbagai petunjuk lainnya. Dengan begitu, Al-quran posisinya menjadi sangat berharga karena berisi hikmah. Sebagai kitab suci yang sangat sempurna dan jelas maknanya, Al-quran wajib menjadi tuntunan umat Islam. Namun, untuk mencerna dan memanfaatkannya dengan baik, Al-quran perlu dibaca dengan hati terbuka.

Baca juga:  Kapolsek Pancur Batu Berhasil Amankan IRT Dengan Barang Bukti Narkoba Jenis Sabu Sabu

2. Menghadiri Majlis Zikir.

Sering menghadiri Perkumpulan orang-orang yang mengkaji dan menceritakan tentang Alquran dan hadits yang otomatis mengingatkan Hamba terhadap sang Pencifta Allah SWT.

“Tidaklah sekelompok orang duduk berdzikir kepada Allah SWT, kecuali Para malaikat mengelilingi mereka, rahmat (Allah) meliputi mereka, ketentraman turun kepada mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan (Para malaikat) yang ada di sisiNya”, (Hadits).

Ingatlah Allah agar hatimu bersih, Ingatlah Allah agar hatimu tentaram, Ingatlah Allah agar hatimu tidak sakit.

3.Ingat Mati (zikrul Maut).

Mengingat mati dengan hati dan pikiran yang waras tentu kita teringat dengan hari pembalasan, tentu kita ingat dengan hari Pertanggung jawaban. Dengan mati keadilan akan kita dapatkan, dengan mati akan diketahui siapa yang salah dan benar, karena mati merupakan babak baru setelah kehidupan duniawi.

Baca juga:  BPK RI Memberi Opini WDP Untuk Pemko Padangsidimpuan

Dunia adalah sementara, dunia adalah panggung sandiwa, dunia adalah tempat ladang amal untuk bekal di akhirat. Kematian merupakan kepastian yang akan dialami oleh setiap manusia. Kita berharap agar menghadapi kematian dalam keadaan tunduk dan patuh kepada-Nya. Karena itu, tidaklah terlalu penting kapan kita akan mati, tapi yang penting adalah sejauh mana persiapan menghadapi kematian itu dengan amal saleh.

Selalu ingat mati (zikrul maut) akan merangsang kita untuk memperbanyak amal saleh. Paling tidak, ada hal zikrul maut yang bisa kita lakukan. Misalnya, menjenguk orang sakit guna mendapatkan hikmah agar menjadi semakin sadar betapa pentingnya kesehatan itu. Dengan sakit, seseorang tidak akan bisa melakukan apa-apa, sehingga akan tertanam tekad untuk memanfaatkan masa sehat dengan banyak beribadah kepada Allah SWT.

Baca juga:  Implementasi Making Indonesia 4.0 Sebanding dengan Kebijakan di Eropa

”Barang siapa yang mengunjungi orang yang sakit, maka berserulah Malaikat dari langit. Engkau telah berbuat baik, baik pula perjalananmu, engkau akan mendiami rumah dalam surga.”,(HR Ibnu Majah).

Komentar Sahabat Pamarta

"Sesungguhnya Hati Manusia itu Berkarat"
"Sesungguhnya Hati Manusia itu Berkarat"
"Sesungguhnya Hati Manusia itu Berkarat"
"Sesungguhnya Hati Manusia itu Berkarat"
"Sesungguhnya Hati Manusia itu Berkarat"
image_pdfUnduh PDF

Komentar

komentar

Tentang Penulis: Pamarta Nusantara

Avatar
Pamarta Nusantara adalah situs berita yang dikurasi dan dimotori oleh PT Media Agung Sejahtera. Bertempat di Sumatera Utara, kami berkomitmen besar untuk menyajikan berita secara akurat, bijak, dan tentu saja terpercaya.

News Feed