oleh

Refleksi Agenda Kebangsaan HMI Cabang Cianjur Tolak Lupa Harkitnas dan Reformasi

Cianjur, Pamarta Nusantara-HMI Cabang Cianjur dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) dan Reformasi, merefleksikan agenda kebangsaan, yang diadakan di kantor ICMI Orda Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Senin (21/5).

Adapun rangkaian kegiatan tersebut memutar kembali flim dokumenter reformasi juga di isi dengan diskusi kebangsaan bersama M. Rendi Aridhayandi dari Dosen Fakultas Hukum UNSUR dan M. Fajar Firdaus mantan Ketua Umum HMI Cabang Cianjur.

Tujuan agenda kebangsaan yang digelar oleh HMI Cabang Cianjur untuk menolak lupa sejarah Harkitnas juga lahirnya reformasi.

Orasi ilmiah atau statement agenda tersebut dibacakan oleh Ketua Umum HMI Cabang Cianjur Paisal Anwari memaparkan bahwa seperti diketahui, hari ini tepat 20 Mei 2018 merupakan peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang ke-110. Dimana Hari Kebangkitan Nasional diperingati pada tanggal 20 Mei, untuk memperingati berdirinya organisasi Boedi Oetomo.

Boedi Oetomo memang bukan organisasi pergerakan pertama di Indonesia. Pasalnya, jauh sebelum Boedi Oetomo berdiri, telah berdiri beberapa organisasi lain, seperti serikat buruh pertama di Hindia-Belanda, yaitu Staats-Spoor Bond (SS-Bond) dan organisasi pribumi Sarekat Prijaji.

Namun menurut Mohammad Hatta dalam tulisannya di majalah Star Weekly, tanggal 17 Mei 1958, Boedi Oetomo sudah mengandung ”kecambah semangat nasional”. Oleh karena itu, tanggal berdirinya organisasi itu dijadikan sebagai momentum peringatan kebangkitan nasional.

Hari Kebangkitan Nasional merupakan salah satu tonggak sejarah bangsa Indonesia yang memiliki nilai-nilai semangat kesatuan dan persatuan serta merupakan tekad anak bangsa untuk melepaskan bangsa Indonesia dari segala belenggu penjajahan.

Baca juga:  Hati-Hati Bagi Pengemudi Saat Melintasi Jalan di Padang Sidempuan

Kehadiran Budi Utomo pada masa itu merupakan suatu episode sejarah yang menandai munculnya sebuah angkatan pembaharu dengan kaum terpelajar sebagai aktor terdepannya.

Generasi 1908 dengan misi utamanya menumbuhkan kesadaran kebangsaan dan hak-hak kemanusiaan di kalangan rakyat Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan dan berjuang membebaskan diri dari penindasan kolonialisme.

Semangat perjuangan itu terus mengalir dari melintasi generasi ke-generasi, hingga dikenal dengan perjuangan pergerakan pemuda Indonesia angkatan 1908, 1928, 1945, 1966, 1998 yang pada intinya untuk memperjuangan cita-cita kemerdekaan yang kemudian dirumuskan kedalam Preambule UUD 1945.

Perjalanan sejarah perjuangan yang masih menyisakan agenda, ditandai dengan munculnya rezim penindas, sehingga tanggal 21 Mei merupakan momentum peringatan hari reformasi. Agenda reformasi yang diperjuangkan mahasiswa bersama masyarakat pada tahun 1998 hingga kini belum sepenuhnya terwujud.

Sampai hari ini, banyak agenda reformasi yang masih belum tuntas, seperti reformasi birokrasi, pemberantasan korupsi, penegakan supremasi hukum hingga persoalan peningkatan kesejahteraan rakyat.

Runtuhnya rezim Orde Baru ditandai dengan mundurnya Soeharto sebagai presiden Indonesia yang telah berkuasa selama 32 tahun. Selama berkuasa banyak yang menganggap bahwa pemerintahan Soeharto adalah pemerintahan yang otoriter. Kuatnya dominasi negara dan birokrasi dalam mengontrol kehidupan masyarakat membuat pembangunan kehidupan sosial dan politik tidak berjalan baik. Begitu kuatnya kekuasaan politik Soeharto yang ditopang oleh birokrasi dan militer membuat struktur politik tidak berfungsi sebagaimana seharusnya.

Baca juga:  Tiga Kapal Boat Tim BPBD Labuhanbatu Lakukan Pencarian Wakapolres

Soeharto dengan partai politiknya dan militernya menguasai politik dan pemerintahan di Indonesia sehingga hal ini menimbulkan kekacauan dan keresahan bagi rakyat Indonesia sendiri.

Untuk itu, rakyat yang dipelopori oleh mahasiswa melakukan gerakan-gerakan perlawanan terhadap rezim Soeharto dengan menyerukan reformasi.

Kekacauan dan kerusuhan pun terjadi secara terus menerus, dan puncaknya adalah peristiwa kerusuhan Mei1998. Pada akhirnya Soeharto mundur sebagai presiden, dan peristiwa ini Di anggap sebagai lahirnya reformasi.

Reformasi sendiri menjadi harapan bagi masyarakat Indonesia akan adanya perubahan yang lebih baik dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sekarang timbul pertanyaan, apakakah dalam perjalananya, reformasi di Indonesia sudah melakukan perubahan yang lebih baik sesuai dengan yang di harapkan? Maka dalam tulisan ini akan mencoba membahas pertanyaan itu dan masalah-masalah yang ada dalam perjalanan reformasi di Indonesia, khususnya dalam bidang politik.

Segera setelah presiden Soeharto mengundurkan diri, Mahkamah Agung mengambil sumpah kepresidenan Bacharuddin Jusuf Habibie, yang merupakan wakil dari presiden Soeharto untuk menggantikannya sebagai presiden. Peristiwa tersebut biasa disebut sebagai reformasi di Indonesia. Enam bulan setelah berjalannya kepemimpinan Habibie, mahasiswa turun kejalan-jalan Ibukota. Sebagian mahasiswa menuntut agar Habibie turun dari jabatannya dan menyerahkan kekuasaan pada pemimpin oposisi. Habibie dicurigai karena mempunyai hubungan yang erat dengan Soeharto, sementara mahasiswa menginginkan reformasi total secepat-cepatnya. Sehinggaa apapun yang masih berhubungan dengan masa orde baru termasuk masalah dwi fungsi ABRI segera di reformasi.

Baca juga:  Andar Harahap Laporkan Harta Kekayaannya

Baik disadari atau tidak pancapaian reformasi yang kita rasakan saat ini seperti halnya, kebebasan menyampaikan dimuka umum, kebebasan pers, lepasnya dwi fungsi abri, menuju negara yang demokreatis ditandai dengan pemilihan umum secara langsung, yakni rakyat memilih langsung calon pemimpinnya terutama presiden dan wakil presiden yang asalnya dipilih oleh MPR, munculnya sistem desentralisasi dan sebagainya, namun perlu disadari perjuangan reformasi masih menyisakan banyak agenda yang belum tuntas, seperti reformasi birokrasi, pemberantasan korupsi, penegakan supremasi hukum hingga persoalan peningkatan kesejahteraan rakyat.

“Agenda kebangsaan yang belum terselesaikan, sudah sepatutnya kita diperjuangkan sebagai anak bangsa yang menginginkan tercapainya cita-cita kemerdekaan,” ucap Ketua Umum HMI Cabang Cianjur sembari mengakhiri statement agenda, orasi ilmiah yang dibacanya.

Acara ini turut dihadiri Kabid PPD Fajrilah Samlawi, beberapa kader HMI Cabang Cianjur dan Mahasiswa umum lainnya. Selain itu, acara ini juga di isi dengan acara berbuka bersama. (309)

Komentar Sahabat Pamarta

Tentang Penulis: Pamarta Nusantara

Gambar Gravatar
Pamarta Nusantara adalah situs berita yang dikurasi dan dimotori oleh PT Media Agung Sejahtera. Bertempat di Sumatera Utara, kami berkomitmen besar untuk menyajikan berita secara akurat, bijak, dan tentu saja terpercaya.

News Feed