oleh

Pilkada ; Nyepi Dan Maisir Politik

Tepatnya tanggal 24-26 Juni 2018 ini, Pilkada serentak memasuki masa tenang, dalam tulisan sebelumnya penulis mengistilahkan masa “tenang atau Tegang.

Tak berlebihan bila di 3 hari masa tenang ini, saya meminjam istilah “Nyepi” yang diyakini sebagai salah satu hari raya keagamaan Hindu di pulau Dewata Bali. Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap).

Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktivitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandar Udara Internasional pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit.

Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa,
Setali tiga uang, dari aspek bahasa memiiki istilah yang berbeda antara “Nyepi dan Tenang” sementara antara tujuan dan kegunaan ada persamaan namun ada beberapa perbedaan yang prinsip. Nyepi bersumber dari theologies keagamaan, sedangkan “masa tenang” adalah bagian dari hukman qodiyyan (aturan Negara).

Baca juga:  Pererat Jalinan Silaturahmi, DPP IKAMAH Ajak Puluhan Alumni Buka Puasa Bersama

Di hadapan kita terbentang sejarah peradaban baru, bahwa periode inovasi teknologi yang mempesona, peluang ekonomi yang tak pernah terjadi sebelumnya, dan reformasi politik yang menakjubkan di belahan dunia manapun.

Menurut futurology John Naisbitt dan Patricia Abdurdene (1990), trend-trend yang terbentuk dalam masyarakat modern adalah perubahan dari (1) masyarakat industry menjadi masyarakat informasi, (2) tekhnologi paksa menjadi high tech/high touch, (3) ekonomi nasional, (4) jangka panjang menjadi jangka pendek, (5) sentralisasi menjadi desentralisasi, (6) bantuan intitusional, (7) demokrasi repsentatif menjadi partisipatif, (8) herarki menjadi jaringan, (9) utara menjadi selatan, dan terakhir (10) salah satu menjadi pilihan ganda.

Geliat kultur global yang homogen semakin menguat manakala media elektronik dan internet berkembang sangat pesat. Hand phone, perkakas elektronik rumh tangga, kendaraan dan sebagainya, bukan lagi kebutuhan tersier melainkan sudah menjadi gaya hidup masyarakat global.

Efek dari globalisasi saat ini tidak hanya merambah warga perkotaan, melainkan telah mengalir memasuki daerah-daerah terpencil hingga di kamar pribadi. Walapun demikian, masih menurut Naisbitt dan Aburdene (1990) walaupun gaya hidup kita bertumbuh semakin sama, terdapat tanda yang tidak mungkin salah dari counter-tend yang kuat. Salah satu bentuk counter.-trend yang melanda Negara berkembang semisal Indonesia adalah masih langgengnya selera kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan.

Baca juga:  Sejarah Terbentuknya Desa Pasir Bara Kecamatan Halongonan Timur Kabupaten Padang Lawas Utara

Pertanyaan menariknya, mungkinkan Negara dalam hal ini pihak Bawaslu bisa mengawasi gelombang informasi yang dipancarkan melalui satalit internet ke masing-masing pengguna smart phone. Bila iya boleh jadi masa tenang tak akan disalah gunakan untuk melakukan kampanye terselubung, dikarenakan tak mungkin untuk dikendalikan maka pihak penyelenggara pemilu akan memunculkan kata bijak “awasi mereka”.

Perhelatan politik ini tinggal hitungan hari, masa tenang hanyalah masalah administrative tahapan kampanye, akan tetapi hand phone yang terkoneksi internet acapkali disuguhi kampanye baik yang masuk kategori hitam, negative ataupun positif, semisal publikasi hasil survey dari beberapa lembaga survey dari yang ternama hingga kelas abal-abal.

Survey adalah pemeriksaan atau penelitian secara komprehensif (wikipedia), sementara itu Survei yang dilakukan dalam kegiatan penelitian itu umumnya dilakukan dengan menyebarkan kuesioner atau wawancara, dengan tujuan untuk mengetahui: siapa mereka, apa yang mereka pikir, rasakan, atau kecenderungan suatu tindakan. Survei lazim dilakukan dalam penelitian kuantitatif maupun kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif, survei lebih merupakan pertanyaan tertutup, sementara dalam penelitian kualitatif berupa wawancara mendalam dengan pertanyaan terbuka.
Survei (survey) atau lengkapnya self-administered survey adalah metode pengumpulan data primer dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada responden individu. Jadi bisa ditarik benang merahnya bahwa survei adalah metode untuk mengumpulkan informasi dari kelompok yang mewakili sebuah populasi.

Baca juga:  Kompol Janner Panjaitan Cek Kesiapan PAM Personel di Sejumlah Masjid

Di media sosial saat ini, baik fb, twiter, bbm, wa dsb-nya, lembaga survey ataupun pihak tertentu yang berkepentingan merilis berbagai hasil survey pilkada, mulai pada tingkat Provinsi hingga Kabupaten/Kota. Fakta ini berbalik dengan regulasi yang dibuat pemerintah, yang memrintahkan untuk menghentikan segala aktivitas yang berhubungan dengan kampanye pemilu. Sekali lagi inilah realitas Pilkada tanah air, maka tak berlebihan bila disebutkan ada korelasi lain antara masa tenang (nyepi) versus maisir (perjudian) politik. Wallahulalam.

Komentar Sahabat Pamarta

Tentang Penulis: Pamarta Nusantara

Gambar Gravatar
Pamarta Nusantara adalah situs berita yang dikurasi dan dimotori oleh PT Media Agung Sejahtera. Bertempat di Sumatera Utara, kami berkomitmen besar untuk menyajikan berita secara akurat, bijak, dan tentu saja terpercaya.

News Feed