oleh

Pesona Mudik Diantara Puasa dan Lebaran

Kata “mudik” dalam kebiasaan masyarakat muslim Indonesia selalu muncul H -7 hingga -1 pada bulan puasa menjelang hari raya idul fitri. Istilah yang sering berdampingan dengan kata puasa dan lebaran ini memunculkan pesona tersendiri dalam tradisi ramadhan ala Indonesia. Sedangkan lawan katanya adalah pasca mudik oleh media sering disebut “arus balik” ketempat kerja dengan menghadirkan delema justicia.

Banyak orang beranggapan bahwa kurang afdhol ibadah shaumnya bila tidak melakukan kegiatan mudik. Kendatipun demikian tidak ada dalil yang mendukung terhadap argumen tersebut. Seorang pekerja rela menghabiskan uang gaji dan tunjangannya selama satu tahun dalam beberapa hari saja hanya untuk melaksanakan lebaran di kampung halamannya. Bila realitas ini dikaitkan dengan teori ekonomi, jelas apa yang dilakukan masyarakat tersebut adalah bertentangan dengan prinsip ekonomi alias merugi secara material, lalu apa sesungguhnya yang mereka cari?

Secara teoritis puasa menurut bahasa berarti menahan diri dari sesuatu serta meninggalkannya. Sedangkan menurut syara’, puasa adalah menahan diri dari makan dan minum serta berhubungan badan (jima’) disertai dengan niat dari sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari, dan kesempurnaannya dengan meninggalkan segala hal yang dilarang dan tidak terperosok ke dalam hal-hal yang diharamkan.

Ibadah Puasa adalah satu di antara lima rukun Islam yang harus diketahui dan dilaksanakan oleh setiap orang Muslim. Oleh karenanya, ketentuan-ketentuan hukum tentangnya serta syarat-syarat yang berkaitan dengan kesempurnaanya sudah sepatutnya dipelajari dengan saksama. Tanpa itu, amal ibadah yang berpuasa dikuatirkan menjadi sia-sia.

Baca juga:  Tim Gabungan Satpol PP Labuhanbatu Razia Tempat Hiburan

Sakralitas “Ramadhan” dan kemeriahan “Lebaran” acapkali tenggelam oleh kehebohan persiapan menjalang lebaran dan cerita suka dukanya para pemudik. Lebaran atau dalam bahasa agamanya “idul fitri” sebagai simbol capaian kemenangan spiritual berubah menjadi kelelahan fisik karena mudik dilakukan dengan ketergesa-gesa. Benarkah mudik sebagai simbol kesempurnaan spiritual atau hanya tradisi belaka.
Mudik secara etimologis bermakna: berlayar ke udik atau pergi ke hulu sungai. Kini, mengapa mudik dimaknai pulang kampung; pergi ke kampung halaman? Pada tahun 1976 (Cet. V), Poerwadarminta menambahkan makna mudik (dari bahasa Betawi) sebagai pulang ke desa (ke dusun) dengan contoh kalimat: ”Tiga hari sebelum Lebaran, sudah banyak orang yang mudik.” Sebelum tahun 1970-an, kata mudik belum dimaknai sebagai pulang ke kampung halaman. Bahkan, mudik tidak ada kaitannya dengan Lebaran. Ketika itu, mudik dan Lebaran adalah dua peristiwa yang tidak ada hubungannya. Fenomena mudik yang dikaitkan dengan lebaran terjadi awal pertengahan dasawarsa 1970-an (Mahaman S Mahayana).

Baca juga:  Menperin Airlangga Dorong Pembentukan Koperasi di Pondok Pesantren

Tradisi mudik menjadi sangat fenomenal, selain memiliki argumen untuk melepas rindu kepada sanak-saudara, namun pada sisi lainnya pulang kampung menjadi pertanda bagi dirinya meraih kesuksesan. Demikian penilaian masyarakat di kampung halaman, mereka yang mudik, cenderung dinilai sebagai orang yang sukses dalam materi. begitupun sebaliknya, bagi yang tidak pulang ke kampung halaman di hari raya idul fitri dianggap orang yang gagal dirantauan.

Pertalian antara puasa, lebaran dan mudik secara sosiologis memiliki akar yang berbeda, puasa dan lebaran adalah peristiwa theologis, sedangkan mudik adalah fenomena sosial yang berhubungan dengan kebiasaan manusia atau yang biasa disebut dengan istilah “tradisi”.

Bagaimana dengan nilai spiritual yang hendak digapai oleh orang-orang yang berpuasa khususnya di sepuluh hari terakhir menjelang lebaran dianjurkan untuk melaksanakan I’tikaf sebagaimana hadis dari Abu Hurairah RA, yang artinya “Nabi Saw biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari”. Selain itu ada riwayat dari Ibnu Rajab RA dalam kitab Lathaa-if al-Ma’aarif dari Ibnu Hurairah yang mengatakan “apabila malam jum’at bertepatan dengan malam ganjil, maka peluangnya lebih besar terjadi Lailatul Qadr.
I’tikaf secara bahasa berarti menetapkan pada sesuatu, sedangkan secara syar’i berarti menetap di masjid dengan tata cara yang khusus disertai dengan niat. Dengan demikian I’tikaf hanya bisa dilakukan bagi sebahagian orang yang memiliki waktu luang, sehingga bisa berdiam diri di masjid, lalu bagimana dengan kesempatan yang dimiliki bagi yang sedang melakukan mudik, patut diduga bahwa mereka tak mungkin melakukan dan meraih kesempatan spiritual untuk mendapatkan malam lailatul qadar.
Selain melewati malam-malam spiritual di malam lailatul qadr, Rasulullah pada malam Tabiran selalu membagi-bagikan gandum dan kurma bersama istri, anak dan cucunya dengan mendatangi kaum fakir miskin untuk disantuni. Esok harinya pada saat shalat ‘idul fitri, mereja sekeluarga khusyu mengikuti shalat jama’ah dan mendengarkan khutbah dan senantiasa menyantap makanan yang basi dan berbau apek.

Baca juga:  Sambut Asian Games 2018, Kemenperin-Pelaku Industri Bersihkan Jakarta

Lalu bagaimana dengan realitas masyarakat muslim kita saat ini, menghabiskan waktu untuk melakukan mudik, lalu disaat hari raya idul fitri kita memamerkan apa yang sudah dimiliki mulai dari pakaiyan, perhiasan, makanan dan kendaraan hingga perabot rumah tangga.

Dengan demikian dapat disimpulkan sementara bahwa “Mudik” sebagai akibat dari perintah theologies dari “Puasa dan Lebaran” mengalami pergeseran makna dari nilai-nilai spiritual puasa dan lebaran menjadi tradisi gempitanya “Mudik” dan hirukpikuknya iklan kebutuhan lebaran. wallahualam.

Oleh : Junaidin Basri
(Dosen STAI Al-Musaddadiyah Garut dan Mahasiswa S3 UPI)
Komentar Sahabat Pamarta

Tentang Penulis: Pamarta Nusantara

Gambar Gravatar
Pamarta Nusantara adalah situs berita yang dikurasi dan dimotori oleh PT Media Agung Sejahtera. Bertempat di Sumatera Utara, kami berkomitmen besar untuk menyajikan berita secara akurat, bijak, dan tentu saja terpercaya.

News Feed