oleh

Permintaan Beras Meningkat Akibat Perubahan Pola Konsumsi Di Provinsi Papua Barat

Oleh Siti Hajida Samual, M.Si.

Sagu dan ubi-ubian bukan lagi makanan utama masyarakat Papua. Beras kini populer, bahkan hingga wilayah pedalaman. Jika tidak diantisipasi, ketahanan pangan bakal terancam. Terbentang tantangan bagi para pemangku kepentingan untuk menguatkan potensi pangan lokal Papua Barat.

Di wilayah Papua, sagu adalah salah satu makanan pokok yang erat kaitannya degan budaya masyarakat setempat atau kearifan lokal. Pangan lokal sagu dan umbi-umbian merupakan makanan pokok bagi masyarakat di tanah Papua mencakup Provinsi Papua dan Papua Barat. 

Masyarakat di tanah Papua saat ini mengalami proses perubahan termasuk dalam makanan pokoknya yang semula sagu, umbi-umbian perlahan-lahan tergantikan oleh beras yang sebenarnya bukan makanan asli Papua. Konsumsi beras di Provinsi Papua  dan Papua Barat rata-rata mencapai 132.000 ton per tahun. Besaran itu sekitar 74% merupakan beras yang di datangkan dari luar daerah (BPS Provinsi Papua Barat 2020). Selengkapnya dapat dilihat dari Gambar di bawah.

Baca juga:  Bupati Lombok Utara Buka Rakor Pariwisata Lombok Utara

Berdasarkan Gambar diatas terlihat bahwa tingkat perbandingan konsumsi beras dengan sagu di Provinsi Papua Barat sangat jauh. Konsumsi beras tahun 2016 sebesar 83,0 kg/kap/tahun terus mengalami peningkatan hingga tahun 2020 yakni 87,0 kg/kap/tahun. Sedangkan konsumsi sagu di Provinsi Papua Barat tahun 2016 sebesar 8,4 kg/kap/tahun mengalami penurunan hingga tahun 2020 yakni 4,8 kg/kap/tahun. Perbandingan ini menunjukkan bahwa konsumsi beras lebih tinggi dari pada konsumsi sagu di wilayah Provinsi Papua Barat.

Semakin meningkatnya ketergantungan ini tidak lepas dari beberapa sebab. Salah satunya adalah meningkatnya pendatang yang mencari rezeki ditanah ini. Bahkan di Papua Barat proporsi penduduk pendatang sudah mencapai 47%. Besarannya sudah hampir sama dengan jumlah penduduk asli. Selain itu beralihnya pola konsumsi masyarakat asli Papua. Beras sudah menjadi makanan pokok warga asli , terutama di perkotaan.

Masyarakat merasa belum makan   walaupun   sudah   makan   ubi, sagu  tetapi   belum   makan   nasi.   Nasi   adalah  primadona  bagi  sebagian  masyarakat  Papua  Barat,  dampaknya  tingkat  partisipasi  konsumsi beras  mencapai  hampir  100%  dan  beras  dijadikan  pangan  pokok  utama  dan  tunggal.  Dalam pola makan, kadang-kadang bertindak irasional, faktor gengsi kadang lebih dominan dari pada aspek kesehatan. Dalam hal ini termasuk kesadaran masayarakat terhadap keamanan pangan. Perubahan   tersebut   menunjukan   tingkat   kesukaan   konsumsi   beras   semakin   banyak dibandingkan  konsumsi  pangan  lokal  sagu  dan  ubi.

Baca juga:  Balai Kemenperin Temukan Inovasi Cara Ubah Sampah Plastik Menjadi BBM

Menurut masyarakat hal ini terkait adanya subsidi (raskin) yang dilakukan  pemerintah  sehingga  semakin  mudah  dalam  ketersediaan  konsumsi  pangan beras.  Hasil  penelitian  dan pernyataan  masyarakat  yang  menunjukkan  ketersediaan  pangan beras  yang  semakin  meningkat dibandingkan  pangan  lokal  berdampak  pada  menurunnya produksi  dan  produktivitas  sumber  pangan  non  beras.  Rumah  tangga  mulai  meninggalkan  konsumsi pangan lokal, dan mengkonsumsi pangan beras yang lebih terjangkau.

Jika mayoritas masyarakat sangat tergantung terhadap beras, potensi kerawanan pangan menjadi lebih besar terutama di daerah pedalaman. Mudahnya mendapat beras karena penjatahan beras miskin di pedalaman lambat laun dapat mengurangi hasrat masyarakat untuk mengolah lahan pertanian atau mengkonsumsi pangan lokal. Bila suatu saat stock pangan lokal berkurang dan suplai beras tersendat bukan tidak mungkin akan memicu kelaparan di daerah pelosok. Akhirnya kembali ke pangan Lokal. Agar terhindar dari bahaya kelaparan di masa mendatang, Papua maupun Papua Barat harus kembali mengembangkan makanan lokal. 

Baca juga:  Bikin SDM Industri Kompetitif, Kemenperin Susun Kurikulum Hingga Usul Insentif

Saat ini, diversifikasi pangan sudah mulai dilakukan sebagian masyarakat Papua Barat yaitu mengkonsumsi beras yang terbuat dari bahan dasar sagu. Salah satu indikasinya belum pernah terjadi gejolak harga beras karena kelangkaan pasokan barang.

Diharapkan pemerintah perlu turun tangan membenahi pangan lokal ini. Jika tidak, sagu dan umbi-umbian akan ditinggalkan. Dan makanan pokok penduduk Papua dan Papua Barat bukan lagi sagu melainkan beras.

Komentar Sahabat Pamarta

News Feed