oleh

Peran dan Perkembangan Agribisnis di Papua Barat

Oleh Joko Setiawan

Sektor agribisnis merupakan sektor ekonomi terbesar dan terpenting dalam perekonomian nasional Indonesia. Sektor agribisnis menyerap lebih dari 75% angkatan kerja nasional termasuk didalamnya 21,3 juta unit usaha skala kecil berupa usahaa rumah tangga diperhutungkan maka sebesar 80% dari jumlah penduduk nasional menggantungkan hidupnya pada sektor agribisnis. Peranan agribisnis yang demikian besar dalam perekonomian nasional memiliki implikasi penting dalam pembangunan ekonomi nasional ke depan.

Agribisnis merupakan sistem pertanian yang saling terkait mulai dari sistem hulu sampai dengan sistem hilir yang memanfaatkan sumber daya yang ada dengan tujuan mendapatkan keuntungan. Industri hulu adalah sektor yang memproduksi alat-alat dan mesin pertanian serta industri sarana produksi yang digunakan dalam proses budidaya pertanian. Sementara industri hilir meupakan industri yang mengelola hasil pertanian menjadi bahan baku atau barang yang siap dikonsumsi .

Lalu bagaimana dengan agribisnis di Papua Barat? Papua Barat adalah daerah yang masih asri dan hutan Papua adalah penyumbang terbesar ketiga oksigen dunia maka dari itu masih sangat luas lahan pertanian di provinsi Papua Barat. Segala macam tanaman pangan tumbuh subur di wilayah Papua Barat Dengan melimpahnya kekayaan tanah di wilayah Papua Barat masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan segala kekayaan itu. Ada beberapa komoditas unggulan dari dari Papua Barat terkhususnya wilayah kabupaten sorong yang bisa saja  menjadi komoditas  ekspor ke wilayah lain. Diantaranya biji pala, oil palm karnel, bunga pala, minyak sawit mentah, pisang, sarang semut dan buah merah.

Baca juga:  Bupati Labuhanbatu Temu Ramah Bersama Kades dan Lurah se-Labuhanbatu

Salah satu komoditas yang sangat menjanjikan adalah buah merah. Sari buah merah dari kabupaten sorong bukan hanya dijual dipasar domestik tetapi  juga pasar global seperti korea selatan dan amerika serikat. Buah merah yang sudah diekstrak menjadi minyak sebesar Rp. 400.000 per liter ,sedangkan untuk pasar ekspor berkisar US$ 100 per liter atau senilai Rp. 1.400.000 . Peluang  buah merah untuk diekspor masih sangat terbuka lebar.

Komoditi perkebunan di Bapua Barat yang terkenal adalah perkebunan kelapa sawit. Luas total kebun kelapa sawit saat ini mencapai 16,38 juta hektar dan luas kebun sawit rakyat mencapai 6,72 juta hektar,undang undang cipta kerja memberikan kesempatan investasi seluas-luasnya tetapi juga melindungi petani dengan perusahaan wajib membangun kebun masyarakat seluas 20% dari total luas lahan yang diusahakan. 

Baca juga:  HMI Cabang Kota Banjar Gelar LK II HMI Tingkat Nasional

Salah satu perusahaan sawit terbesar di Papua Barat adalah PT. Austindo Nusantara Jaya Tbk. (ANJ) tercatat melakukan pengiriman perdana minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) yang dihasilkan dari dua unit usaha perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di Papua Barat, yakni PT Permata Putera Mandiri ( PPM) dan PT Putera Manunggal Perkasa (PMP) di Maybrat. Pabrik kelapa sawit milik ANJ berkapasitas 45 ton TBS/jam selama 7 bulan mampu  menghasilkan 4.120 ton CPO dengan suplai Tandan Segar (TBS) sawit dari PMP dan PPM.

Prospek kelapa sawit untuk kedepannya agak sulit dikarenakan Menteri Koordinator (Menko) bidang kemaritiman dan invesatasi Luhut Binsar Pandjaitan sepakat, pihaknya tidak menginginkan lagi ada pengembangan kelapa sawit di wilayah papua dan Papua Barat.

“ jadi kami sudah moratorium untuk pengembangan hutan, jangan kelapa sawit lagi. Kelapa sawit pasti kepemilikanya adalah perusahaan-perusahaan besar. Kita ingin small medium enterprises atau UMKM ( usaha mikro,kecil, menengah) berkembang,” ujar luhut di Sorong, Kamis (27/2)

Sejalan dengan moratorium tersebut, maka Luhut mendorong perkembangan komoditas unggulan berupa kopi, kakao, pala, rumput laaut melalui investasi hijau (green investmen) di provinsi Papua dan Papua barat.

Baca juga:  PC SAPMA PP Labusel Kirim Kader Terbaiknya Ikuti Kaderisasi di Medan

Untuk perkebunan sawit yang telah berjalan, Luhut menyatakan ia tak akan menganggu industri tersebut. Namun ia menegaskan jika para pelaku usaha tidak diperbolehkan lagi melakukan pelebaran lahan(https://www.goggle.com/amp/s/amp/kompas.com/money/read/2020/02/28/151004116/ini-alasan-luhut-larang-perluasan-perkebunan-sawit-di-papua

Disisi lain asda 14 instansi yang telah lakukan deklarasi untuk dongkrak ekspor asal Papua Barat . Diantaranya adalah Pemkab Sorong, Pemkot Sorong, Kandisdtan Pemprov Papua Barat, Kansditan Kaimana, Bank Indonesia, BPS Prov Papua Barat, Polbangtan Manokwari, BPPT Manokwari, Bea Cukai Manokari, KSOP Sorong , BC Sorong, Ka Bandara DEO, Pelaku Usaha Agribisnis Kansdistan Tambrauw termasuk Karantina Sorong serta Manokwari (http;//kabarbisnis.com/read/2890828/di-sorong-strategi-dorong-ekspor-pertanian-asal-papua-barat-disepakati)

Perkembangan agribisnis di papua barat sudah cukup baik akan tetapi perlu dilakukan beberapa peningkatan dalam memanfaatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang lebih profesional, inovatif, kreatif. Oleh karena itu Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan Masyarakat harus bersinergi dan bekerja sama agar terwujudnya agribisnis yang produktif yang dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap pertumbuhan perekonomian baik dalam pemanfaatan tenaga kerja dan penyedia ketahanan pangan nasional.

Komentar Sahabat Pamarta

News Feed