oleh

Fenomena Usaha Tani Jagung di Kabupaten Sorong

Oleh Aldila Mawanti Athirah, M.Si.

Indonesia dijuluki sebagai negara agraris karena pertanian menjadi salah satu sektor yang diandalkan dalam penopang pembangunan ekonomi dan solusi dalam masalah pangan di Indonesia. Tanaman pangan utama di Indonesia adalah beras. Sedangkan, Jagung merupakan tanaman pangan pengganti beras, yang menjadi bahan utama untuk pakan ternak dan juga menjadi bahan industri. Dimana jagung juga berperan penting dalam pembangunan pertanian nasional sehingga menempati kontributor terbesar kedua setelah padi didalam subsektor tanaman pangan pada tahun 2010-2014.

Jagung manis atau yang bernama latin Zea mays L. Saccharata merupakan salah satu komoditas holtikultura yang dipanen pada umur 60-67 hari setelah tanam atau 18-24 hari setelah penyerbukan yang dijual dengan membawa tonggolnya. Khasnya jagung ini adalah rasanya yang enak dan lebih manis dari jagung lainnya. Jagung manis sendiri memiliki daya tarik yang lebih di mata petani sehingga menjadi salah satu komoditas yang dipilih dalam usahatani untuk beberapa petani salah satunya di Wilayah Papua Barat yang sentranya berada di Kabupaten sorong. 

Baca juga:  Industri Makanan dan Logam Penyumbang Besar Investasi Semester I-2019

Produksi jagung semakin hari semakin meningkat melebihi padi, karena peminat yang kurang dan juga kondisi lahan dan irigasi pertanian yang tidak memadai terhadap padi membuat padi semakin hari mengalami penurunan produktivitas.  Komoditas jagung mengalami peningkatan yang sangat trastis namun pada 2 tahun terakhir ini jagung juga mengalami sedikit penurunan pada produktivitasnya. Jangung di kabupaten sorong memang terbagi menjadi beberapa jenis namun yang sering ditanam oleh petani adalah jagung hibrida dan jagung manis. 

Jagung hibrida memiliki masa panen yang memakan waktu lama dan harus dijual dengan kondisi sudah kering dan dipipil dengan hitungan kilogram, hal ini membuat petani harus memikirkan modal yang lama tertanam. Sedangkan jagung manis lebih cepat masa panennya sehingga menjadi kemudahan sendiri bagi petani untuk memutar lagi modal yang digunakan. 

Baca juga:  Kemenperin Dorong Replikasi Pembangunan Politeknik Berbasis Industri

Namun, kedua jagung ini mengalami kesulitan dalam pemasarannya. Pada jagung hibrida ialah sedikitnya penampung jagung pipil karena tidak semuanya dapat mengolah jagung tersebut menjadi produk yang memiliki nilai tambah dalam penjualan dan jagung manis memiliki kesulitan dalam pemasaran juga, walaupun ada petani yang dapat menjual sendiri hasil panenya akan tetapi lebih banyak petani yang hanya dapat memperpanjang rantai tataniaga yang membuat petani hanya mendapat pendapatan yang sangat sedikit. Apalagi ditambah dengan mulai menaikannya seluruh biaya pertanian yang membuat petani harus lebih memikirkan pendapatan mereka. 

Wilayah kabupaten sorong terdiri dari beberapa distrik yang dimana salah satunya ialah distrik mariat yang jagung masih menjadi prioritas di distrik ini dibandingkan dengan padi. Jagung pada wilayah ini terbagi menjadi 2 yaitu jagung hibrida dan jagung manis. Dapat dilihat juga produksi  jagung manis berada di atas jumlah produksi jagung hibrida. Akan tetapi produktivitas pada kedua jenis ini mengalami penurunan disetiap tahunnya. Penurunann produktivitas pada jagung manis pastinya akan mempengaruhi hasil pendapatan pada petani sehingga layak tidaknya usahatani ini dijalankan masih menjadi tanda tanya. 

Baca juga:  Kemenperin Dorong AMMDes dan Esemka Jadi Solusi Pacu Perekonomian Desa

 

Komentar Sahabat Pamarta

News Feed