oleh

254 Mahasiswa dan 36 Polisi Luka Akibat Bentrok di Depan Gedung DPR/MPR RI

JAKARTA, PAMARTANUSANTARA.CO.ID | Sebanyak 254 mahasiswa dan 36 personel polisi luka luka akibat aksi demo yang berakhir bentrokan di depan Gedung DPR/MPR RI. Dari ratusan korban itu tercatat 11 orang harus dirawat di rumah sakit karena menderita luka serius. “Sebanyak 254 yang dirawat jalan di beberapa rumah sakit dan 11 orang dirawat inap,” kata Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Subroto, Rabu (25/9).  Meski Kapolda tidak menjelaskan penyebab luka para mahasiswa itu, tapi di lapangan umumnya  mereka kena gas air mata dan pukulan. “Ada yang kena gas air mata, karena dorong-dorongan dan lain-lain. Kami masih dalami sebab sebabnya,” ujar Irjen Gatot.  Pihaknya telah menurunkan tim  ke rumah sakit untuk mendatakan para korban tersebut. Namun belum mendapat data pasti dari rumah sakit.  Dijelaskan Kapolda Gatot, aksi demo di depan DPR RI, Selasa (24/9) yang berakhir ricuh awalnya berlangsung damai. Aksi unjuk rasa berlangsung kondusif pada pagi hari.  Sekitar pukul 08.00 pagi sudah pendemo berkumpul di depan gedung DPR. Sekitar pukul 14.00 WIB, mereka mulai masuk ruas jalan tol. Namun situasi masih terkendali aman serta kondusif.  Menurut Irjen Gatot sekitar  pukul 16.00 WIB, perwakilan mahasiswa meminta bertemu dengan pimpinan DPR dan polisi  melakukan mediasi.  Pihak kepolisian berkoordinasi dengan Sekjen DPR dan hasilnya  bahwa Ketua DPR bersama pimpinan lainnya siap menerima.  Namun para mahasiswa menghendaki Ketua DPR dan pimpinannya untuk datang ke tengah-tengah massa demo. Permintaan ini ditolak pimpinan DPR karena melihat berbagai faktor keamanan.  Akhirnya massa, mengancam akan menerobos masuk ke DPR. Para pendemo ramai menyanyikan yel-yel untuk masuk ke dalam kawasan DPR. Situadi semakin memanas hingga mendorong petugas dan melempari dengan batu hingga botol.  Sekitar pukul 16.05 WIB mereka mulai mendorong anggota polisi yang ada di dalam pagar dan dilempari baik gunakan botol air mineral maupun dengan batu.  Massa merusak pagar DPR dan bermaksud untuk menduduki DPR. Tujuan mereka untuk masuk ke dalam DPR dan ingin menguasai DPR.  Situasi semakin tidak terkendali dan massa semakin bertindak anarkis. Polisi kemudian melakukan tindakan kepolisian untuk membubarkan massa.  Setelah dilakukan tindakan-tindakan sudah ke tindakan dengan tahapan-tahan.  Pertama polisi tembak air (water canon) untuk mundur tetapi mereka nggak mau mundur. Namun massa tetap maju dan merusak pagar  pagar DPR.  Karena setelah ditembaki dengan water canon, massa tidak berhenti dan justru semakin beringas, polisi pun kemudian mengeluarkan tembakan gas air mata.  Terdapat 3 sisi pagar dirusak dan bagian jebol.  Polisi akhirnya atad nama undang- undang lanjut Irjen Gatot  terpaksa melakukan tindakan tegas menembakkan gas air mata ke pengunjuk rasa supaya mahasiswa ini mundur.  Dalam aksi demo berakhir rusuh di depan gedung DPR pada Selasa (24/9) polisi menangkap  94 orang. Mereka diamankan polisi karena merusak sejumlah fasilitas publik yang berada di sekitar lokasi kejadian.  Para pendemo yang diamankan kini menjalani pemeriksaan secara intensif di Polda Metro Jaya. Dari tangan mereka, polisi menyita sejumlah barang bukti, salah satunya bom molotov.  Satu orang yang diamankan diketahui sebagai pelajar. Dia diduga sebagai pelaku melempar bom molotov yang membuat pos polisi di kawasan Slipi terbakar.  Pasca aksi rusuh di depan Gedung DPR/MPR pada Rabu (25/9) terpantau kondusif. Hanya para petugas Pekerja Penanganan Sarana dan Prasarana Umum (PPSU) terlihat sibuk membersihkan sisa-sisa sampah dan matu yang ditinggal pendemo.  Meski tidak ada aksi demo, gerbang gedung DPR/MPR tetap dijaga petugas keamanan. Pagar-pagar yang dijebol mahasiswa sudah kembali dipasang dan lalu lintas berjalan lancar di depan gedung DPR/MPR.  Sejumlah fasilitas mengalami kerusakan imbas aksi demonstrasi massa  itu. Informasi yang diperoleh menyebutkan sedikitnya ada lima unit fasilitas publik rusak akibat dibakar..  Fasilitas dimaksud, yakni dua unit gardu di Gerbang Tol Pejompongan diketahui hangus diduga sengaja dibakar oleh oknum sekitar pukul 20.30 WIB. Pos Polisi Palmerah juga hangus dibakar. Pos yang terletak di sekitar Kompleks DPR Senayan Jalan Tentara Pelajar hangus dibakar oknum tidak diketahui.  Pos polisi di Jalan Gerbang Pemuda Senayan juga hangus terbakar. Satu unit bus milik Yonif Mekanis 202 dibakar massa tidak dikenal di Jalan Lapangan Tembak Senayan.  Satu unit tiang listrik di kawasan Gelora Bung Karno Jakarta juga tampak mengeluarkan api diduga dirusak massa.  Fasilitas lainnya yang juga mengalami kerusakan adalah pagar gedung DPR RI. (Tim)
254 Mahasiswa dan 36 Polisi Luka Akibat Bentrok di Depan Gedung DPR/MPR RI

JAKARTA, PAMARTANUSANTARA.CO.ID | Sebanyak 254 mahasiswa dan 36 personel polisi luka luka akibat aksi demo yang berakhir bentrokan di depan Gedung DPR/MPR RI. Dari ratusan korban itu tercatat 11 orang harus dirawat di rumah sakit karena menderita luka serius. “Sebanyak 254 yang dirawat jalan di beberapa rumah sakit dan 11 orang dirawat inap,” kata Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Subroto, Rabu (25/9).

Meski Kapolda tidak menjelaskan penyebab luka para mahasiswa itu, tapi di lapangan umumnya mereka kena gas air mata dan pukulan. “Ada yang kena gas air mata, karena dorong-dorongan dan lain-lain. Kami masih dalami sebab sebabnya,” ujar Irjen Gatot.

Pihaknya telah menurunkan tim ke rumah sakit untuk mendatakan para korban tersebut. Namun belum mendapat data pasti dari rumah sakit.

Dijelaskan Kapolda Gatot, aksi demo di depan DPR RI, Selasa (24/9) yang berakhir ricuh awalnya berlangsung damai. Aksi unjuk rasa berlangsung kondusif pada pagi hari.

Sekitar pukul 08.00 pagi sudah pendemo berkumpul di depan gedung DPR. Sekitar pukul 14.00 WIB, mereka mulai masuk ruas jalan tol. Namun situasi masih terkendali aman serta kondusif.

Baca juga:  PLN UP3 Padangsidimpuan ULP Gunung Tua Pastikan Pasokan Listrik Aman Selama Ramadhan

Menurut Irjen Gatot sekitar pukul 16.00 WIB, perwakilan mahasiswa meminta bertemu dengan pimpinan DPR dan polisi melakukan mediasi.

Pihak kepolisian berkoordinasi dengan Sekjen DPR dan hasilnya bahwa Ketua DPR bersama pimpinan lainnya siap menerima.

Namun para mahasiswa menghendaki Ketua DPR dan pimpinannya untuk datang ke tengah-tengah massa demo. Permintaan ini ditolak pimpinan DPR karena melihat berbagai faktor keamanan.

Akhirnya massa, mengancam akan menerobos masuk ke DPR. Para pendemo ramai menyanyikan yel-yel untuk masuk ke dalam kawasan DPR. Situadi semakin memanas hingga mendorong petugas dan melempari dengan batu hingga botol.

Sekitar pukul 16.05 WIB mereka mulai mendorong anggota polisi yang ada di dalam pagar dan dilempari baik gunakan botol air mineral maupun dengan batu.

Massa merusak pagar DPR dan bermaksud untuk menduduki DPR. Tujuan mereka untuk masuk ke dalam DPR dan ingin menguasai DPR.

Situasi semakin tidak terkendali dan massa semakin bertindak anarkis. Polisi kemudian melakukan tindakan kepolisian untuk membubarkan massa.

Setelah dilakukan tindakan-tindakan sudah ke tindakan dengan tahapan-tahan. Pertama polisi tembak air (water canon) untuk mundur tetapi mereka nggak mau mundur. Namun massa tetap maju dan merusak pagar pagar DPR.

Baca juga:  Polisi Tangkap Penusuk Pria Toraja di Wamena

Karena setelah ditembaki dengan water canon, massa tidak berhenti dan justru semakin beringas, polisi pun kemudian mengeluarkan tembakan gas air mata.

Terdapat 3 sisi pagar dirusak dan bagian jebol. Polisi akhirnya atad nama undang- undang lanjut Irjen Gatot terpaksa melakukan tindakan tegas menembakkan gas air mata ke pengunjuk rasa supaya mahasiswa ini mundur.

Dalam aksi demo berakhir rusuh di depan gedung DPR pada Selasa (24/9) polisi menangkap 94 orang. Mereka diamankan polisi karena merusak sejumlah fasilitas publik yang berada di sekitar lokasi kejadian.

Para pendemo yang diamankan kini menjalani pemeriksaan secara intensif di Polda Metro Jaya. Dari tangan mereka, polisi menyita sejumlah barang bukti, salah satunya bom molotov.

Satu orang yang diamankan diketahui sebagai pelajar. Dia diduga sebagai pelaku melempar bom molotov yang membuat pos polisi di kawasan Slipi terbakar.

Pasca aksi rusuh di depan Gedung DPR/MPR pada Rabu (25/9) terpantau kondusif. Hanya para petugas Pekerja Penanganan Sarana dan Prasarana Umum (PPSU) terlihat sibuk membersihkan sisa-sisa sampah dan matu yang ditinggal pendemo.

Baca juga:  Tingkatkan Konsumsi Daging Sapi Masyarakat, Produksi Ternak Sapi Sumut Perlu Digenjot

Meski tidak ada aksi demo, gerbang gedung DPR/MPR tetap dijaga petugas keamanan. Pagar-pagar yang dijebol mahasiswa sudah kembali dipasang dan lalu lintas berjalan lancar di depan gedung DPR/MPR.

Sejumlah fasilitas mengalami kerusakan imbas aksi demonstrasi massa itu. Informasi yang diperoleh menyebutkan sedikitnya ada lima unit fasilitas publik rusak akibat dibakar..

Fasilitas dimaksud, yakni dua unit gardu di Gerbang Tol Pejompongan diketahui hangus diduga sengaja dibakar oleh oknum sekitar pukul 20.30 WIB. Pos Polisi Palmerah juga hangus dibakar. Pos yang terletak di sekitar Kompleks DPR Senayan Jalan Tentara Pelajar hangus dibakar oknum tidak diketahui.

Pos polisi di Jalan Gerbang Pemuda Senayan juga hangus terbakar. Satu unit bus milik Yonif Mekanis 202 dibakar massa tidak dikenal di Jalan Lapangan Tembak Senayan.

Satu unit tiang listrik di kawasan Gelora Bung Karno Jakarta juga tampak mengeluarkan api diduga dirusak massa.

Fasilitas lainnya yang juga mengalami kerusakan adalah pagar gedung DPR RI. (Tim)

Komentar Sahabat Pamarta

254 Mahasiswa dan 36 Polisi Luka Akibat Bentrok di Depan Gedung DPR/MPR RI
image_pdfUnduh PDFimage_printCetak

Komentar

komentar

Tentang Penulis: Pamarta Nusantara

Gambar Gravatar
Pamarta Nusantara adalah situs berita yang dikurasi dan dimotori oleh PT Media Agung Sejahtera. Bertempat di Sumatera Utara, kami berkomitmen besar untuk menyajikan berita secara akurat, bijak, dan tentu saja terpercaya.

News Feed